h1

Sebatang Rokok Untuk Kyai

Januari 28, 2008

SEBATANG ROKOK UNTUK PAK KYAI

Oleh : Faizal Motik

DILEMATIS! Ini mungkin kata yang paling tepat untuk menggambarkan masalah merokok bagi Indonesia yang tengah terpuruk dalam bidang sosial ekonomi. Negara sebagai pengambil kebijakan seolah-olah dalam posisi MAJU KENA MUNDUR KENA, KE KANAN SALAH KE KIRI SALAH. Gambaran yang paling jelas adalah pidato Menteri Kesehatan dalam kampanye anti merokok serta komentar Menteri Perindustrian mengenai sumbangan industri rokok bagi negara. Dilema ini akan semakin jelas bila kita cermati data dan uraian berikut.

KIBASAN TONGKAT DEWI PERI

Dalam dunia perokokan, banyak logika yang terbalik-balik. Misalnya, ada mitos yang berkembang di masyarakat bahwa riset tentang dampak rokok terhadap kesehatan belum tuntas. Padahal faktanya, ada lebih dari 70 ribu artikel ilmiah yang telah membuktikan secara tuntas bahwa konsumsi rokok dan paparan terhadap asap rokok berbahaya bagi kesehatan. Mitos lain, pandangan sebagian masyarakat bahwa larangan merokok di tempat umum melanggar hak asasi seseorang.

Padahal yang benar, justru merokok di tempat umum itulah yang melanggar hak orang lain untuk menikmati udara bersih. Juga hak untuk tak diganggu asap rokok yang beracun. Rokok tak ubahnya si Dewi Peri yang bisa mengibaskan tongkat ajaibnya dan mengubah cara pandang manusia. Lihat saja, pemerintah Indonesia hingga kini masih memandang bahwa industri rokok memainkan peran penting dalam perekonomian. Cara pandang pemerintah itu memang benar, jika yang dilihat hanyalah hasil jangka pendek.

Cukai industri rokok menyumbang 5 persen dari total APBN setahun. Bahkan pemerintah pernah menyanjung industri rokok, karena mereka meberikan suntikan cukai dan pajak sebesar Rp 50 triliun pada 2006 (artikel Tulus Abadi, Koran Tempo, 9 April 2007). Dengan cara pandang myopik (tanpa melihat jauh), industri rokok di Indonesia memang menguntungkan secara ekonomis bagi sekitar 11 juta orang yang terlibat dalam industri rokok secara langsung maupun tak langsung.

Namun kalau pemerintah memakai cara pandang yang komprehensif dan holistik (secara kaffah), akan terlihat betapa keuntungan jangka pendek itu mengakibatkan dampak sosial, ekonomi, dan kesehatan yang jauh lebih mahal. Lembaga Indonesian Tobacco Control Network dalam blognya menyebut bahwa dana yang diperlukan untuk mengatasi dampak rokok per tahun Rp 81 triliun.

Lalu Hakim Sorimuda Pohan, anggota Komisi IX Dewan Perwakilan Rakyat, pernah menyebutkan bahwa biaya kesehatan yang terkait dengan masalah merokok mencapai Rp 14,5 triliun per tahun (Koran Tempo, 14 Maret 2007). Juga Tulus Abadi dalam artikel yang sama, mengutip Dr. Soewarta Kosen (An Economic Analysis of Tobacco Use in Indonesia, National Institute of Health Research & Development, 2004), menyebutkan bahwa pada periode 2001, total biaya konsumsi tembakau Rp 127,4 triliun.

Jumlah itu digunakan untuk belanja tembakau, biaya pengobatan sakit akibat mengonsumsi tembakau, kecacatan, dan kematian dini. Angka tersebut setara dengan 7,5 kali lipat penerimaan cukai tembakau tahun yang sama, yaitu Rp 16,5 triliun. Di luar itu, masih ada ongkos sosial, ekonomi, moral dan budaya yang belum dihitung. Disertasi Rita Damayanti (dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2006) membuktikan perilaku merokok berkontribusi signifikan terhadap tumbuhnya berbagai penyakit sosial, seperti penggunaan narkotik, tindak kekerasan, bahkan HIV/AIDS.

Sementara itu, menurut analisis Soewarta Kosen (ahli ekonomi kesehatan Litbang Departemen Kesehatan), total tahun produktif yang hilang karena penyakit yang terkait dengan tembakau di Indonesia pada 2005 adalah 5.411.904 disability adjusted life year (DALYs). Jika dihitung dengan pendapatan per kapita per tahun pada 2005 sebesar US$ 900, total biaya yang hilang US$ 4.870.713.600. Lalu pada periode 2001, jumlah kematian yang berhubungan dengan konsumsi tembakau mencapai 427.948 jiwa atau merupakan 22,5 persen dari total kematian di Indonesia.

ROKOK & KEMISKINAN

Yang lebih menyayat hati adalah hasil penelitian Indonesian Forum on Parliamentarians for Population and Development (IFPPD) menghitung simulasi belanja pada keluarga miskin,. Menurut survey BPS, “dua dari tiga ayah di Indonesia adalah perokok,” kata Sri Utari Setyawati dari IFPPD.Lembaga ini memperkirakan, dengan merujuk pada data, ada 19 juta keluarga miskin. Dari angka itu, 12 juta ayah dari keluarga miskin adalah perokok.

“Mereka membelanjakan Rp. 23 triliun setiap tahun untuk rokok.”Ini pun dengan menggunakan perhitungan moderat, yakni rata-rata 10 batang rokok diisap setiap hari. Kaitan antara rokok dan kemiskinan pun tidak hanya terjadi di Indonesia, tapi juga di berbagai belahan dunia. Penelitian di Bangladesh yang berjudul “hungry for Tobacco” pada 2000 menunjukan bahwa : TAK PERNAH ADA KATA TERLALU MISKIN UNTUK MEROKOK.

Yang Miskin, Yang Kecanduan

Sifat adiktif rokok membuat banyak orang melupakan prioritas. Kecanduan merokok susah dilepaskan, meskipun kondisi keuangan tak menguntungkan.

Tahun 1995 : 4,99% Proporsi belanja rokok kelompok berpenghasilan paling tinggi
Tahun 2001 : 7,47% Proporsi belanja rokok kelompok berpenghasilan paling tinggi
Tahun 1995 : 6,11% Proporsi belanja rokok kelompok berpenghasilan paling rendah
Tahun 2001 : 9,1% Proporsi belanja rokok kelompok berpenghasilan paling rendah
SUMBER : BPS, dikutip dari KORAN TEMPO, 14 /03/07

RAKSASA BERWAJAH DEWA

Wajah buruk dari dampak rokok dan industri rokok tidak terasakan – ibarat Raksasa Buas (Jawa : Buto) tapi dipuja seperti Dewa Penolong. Mengapa demikian?, hal ini sangat dapat dimaklumi karena menurut survei AC Nielsen, kue iklan dari industri rokok pada tahun 2006 ini bernilai Rp 1,6 triliun. Uang sebesar ini bila dipakai untuk membeli rumah yang senilai Rp 50 juta bisa dapat 32 miliar buah rumah. Bayangkan bila uang itu disalurkan untuk subsidi perumahan rakyat, niscaya tak ada orang Indonesia yang menjadi gelandangan.

Namun kalangan industri rokok toh memilih menyalurkan uang senilai “32 miliar rumah”itu untuk belanja iklan. Maklum, iklan melalui berbagai media, diyakini bisa ikut menggembirakan dunia perokokan di kalangan masyarakat. Iklan rokok diyakini masih menjadi sarana yang efektif untuk menciptakan asmosfer psikologis masyarakat yang ramah pada rokok. Bahkan, iklan diyakini bisa menjadi faktor magis untuk membuai masyarakat pada kegemaran merokok. Pendek kata, iklan dianggap bisa membuat roda industri rokok tetap menggelinding.

Lihat saja, iklan rokok yang menggunakan sejuta kiat dan trik, walau tanpa anjuran merokok atau adegan yang menggambarkan asyiknya merokok. Ada iklan yang mengaosiasikan warna merah yang mewakili merek rokok tertentu dengan nilai kesetiakawanan sosial (Buktikan MERAHmu!). Iklan rokok lain mengasosiasikan diri dengan kebebasan ekspresi khas di kalangan pemusik (Tunjukan Ekspresimu!). Juga ada iklan yang mengasosiasikan brand-nya dengan kesempurnaan.

Selain ada juga iklan rokok yang menekankan impresi dalam benak remaja mengenai kebersamaan dan gotong royong (“Asyiknya rame-rame!”). Daftar ini bisa bertambah sangat panjang. Dengan dana yang besar, kalangan industri rokok menyewa biro-biro periklanan yang cerdas dan piawai dan melakukan riset yang dalam sebelum menciptakan iklan-iklan tersebut. Iklan-iklan rokok tersebut bisa dikatakan relatif sangat berhasil secara kualitatif.

Di luar negeri, contoh iklan rokok yang sukses bisa dilirik dari Mallboro. Rokok produksi perusahaan Philip Morris ini pada 1954 pernah membuat iklan dengan ikon koboi gagah yang merokok di alam bebas. Konsep iklan itu sebetulnya untuk mempopulerkan sigaret filter, yang waktu itu masih dianggap feminin. Iklan Mallboro ini disebut-sebut sebagai salah satu dari iklan yang paling brilian sepanjang sejarah. Hanya dalam waktu sebulan iklan itu mengubah citra rokok sigaret filter dari feminin ke maskulin. Dan dalam waktu delapan bulan sejak iklan Mallboro Man pertama kali diluncurkan, penjualan rokoknya meningkat 5000 persen.

Namun kesuksesan iklan tersebut menyimpan kisah ironis. Wayne McLaren dan David McLean, dua bintang iklan Mallboro, diberitakan meninggal dunia karena kanker paru. McLaren sendiri setelah mengidap penyakit itu kemudian terjun di kegiatan kampanye antirokok. Aktor Amerika itu menyampaikan pernyataan terbuka bahwa dia biasa menghabiskan rokok satu setengah bungkus setiap hari, sebelum akhirnya kanker paru menyerangnya. Namun Philip Morris menyangkal bahwa McLaren pernah muncul dalam sebuah iklan Mallboro (baca Wikipedia).

MENGUBAH MUDHARAT MENJADI MANFAAT

“Rabbana maa khalaqta haadza bathila subhanaka waqinaa adzaabannar”- yang artinya : “wahai Tuhan kami, tidaklah segala sesuatu ini kau ciptakan sia-sia. Maha suci engkau dan lindungilah kami dari azab neraka”. Bila kita memohon pada Tuhan untuk dilindungi dari adzab neraka, sepatutnya hal di atas mendorong kita untuk bertanya apakah cengkeh, tembakau dan unsur-unsur yang menjadi kertas, semua itu diciptakan hanya untuk menjadi rokok yang jelas-jelas membawa mudharat bagi kesehatan manusia?

Beberapa kolega penulis yang meraih Doktor dalam bidang kimia, baik di dalam maupun di luar negeri dalam suatu perbincangan pernah menyampaikan pada penulis bahwa dalam sejarah negeri kita dijajah oleh bangsa Eropa (Belanda), berawal dari keinginan bangsa Eropa memperoleh rempah-rempah yang berlimpah di negeri ini. Salah satu primadonanya adalah cengkeh dan kemudian juga tembakau.Dalam halnya cengkeh, kita tahu di negeri ini hampir seluruhnya dipakai untuk keperluan rokok kretek, bahkan sampai mengimport cengkeh dari Zanzibar.

Padahal, tidak ada satupun pabrik kretek di negeri Eropa. Dari pengamatan dan penelitian para ahli di atas, paling tidak ada 12 produk yang nilai dagangnya miliaran per tahun yang berbahan utama cengkeh, untuk berbagai keperluan baik pengobatan, kosmetik dsb. Ironisnya, produk itu dari semenjak kita merdeka sampai sekarang tidak diproduksi oleh bangsa ini, kecuali sebagian kecil saja. Itupun lebih kepada keperluan lokal. Penulis berpikir untuk mengimbangi kekuatan perusahaan raksasa yang telah memproduksi barang-barang yang bernilai tinggi ini dibutuhkan pengusaha yang juga bermodal besar.

Untuk ini alangkah baiknya bila perusahaan-perusahaan rokok di Indonesia yang termasuk konglomerasi papan teratas dinegeri ini, diberi insentif untuk mulai mengubah orientasi produknya atau paling tidak mulai meluaskan produknya pada 12 produk di atas.Kita tahu lesunya perkebunan cengkeh di Indonesia disebabkan antara lain selain “kekacauan oleh BPPPC” juga disebabkan jatuhnya harga dari Rp. 90.000,- /kg pada medio 70-an (nilai US $ 1 dibawah Rp. 2.000,-), sedangkan sekarang Rp. 13.000,- /kg (nilai US $ 1 di atas Rp. 9.000,-).

Demikian pula halnya dengan tembakau. Begitu banyak produk yang dapat dibuat dengan bahan utama tembakau , salah satu yang relevan dengan Indonesia adalah selain untuk bahan kosmetik dan pengobatan, juga insektisida alami yang tidak berbahaya bagi manusia tetapi sangat bermanfaat untuk kesuburan dan kesehatan berbagai tanaman perkebunan.

Penulis membayangkan betapa akan sangat memberi manfaat bagi jutaan rakyat apabila dapat dibangkitkan kembali perkebunan cengkeh di Indonesia dengan diversifikasi produk seperti yang disebutkan di atas. Sehingga, TIDAK PERLULAH KAMPANYE ANTI MEROKOK IDENTIK DENGAN “PERANG” TERHADAP INDUSTRIALIS ROKOK di Indonesia yang faktanya saat ini menyumbang begitu banyak bagi Negara. Yang ada adalah bagaimana mengubah dari produk yang MUDHARAT menjadi produk yang MANFAAT.

Wallahualam bish-shawab.

Penulis : Faizal Motik, SH (Pendiri dan Ketua Umum Masyarakat Indonesia Tanpa Rokok (MITRO)).

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: