h1

Panas Dingin Hubungan Indonesia Malaysia

Januari 28, 2008

Oleh Faizal Motik
Ketua Umum Yayasan Dunia Merdeka dan Yayasan Pesantren Swarna Bhumy

“Benar, hubungan kita seperti abang dan adik”. Demikian ucapan Tun Abdul Ghafar yang biasa dijuluki Baba yang saat itu menjadi menlu Malaysia dalam pertemuan perdana Dialog Pemuda RI-Malaysia di Tanjung Bidara, Malaka, 15-18 Desember 1988.

Selanjutnya, dengan nada bercanda beliau menambahkan, “Tapi sayang si abang sering melupakan adiknya.” Pernyataan tersebut dikeluarkan Ghafar Baba sebagai tanggapan atas ungkapan penulis tentang hubungan kedua negara yang sepatutnya seperti abang dan adik kandung. Ghafar Baba langsung menanggapi dengan menyatakan Indonesia sebagai abang dan Malaysia sebagai adiknya.

Dialog tersebut dianggap penting oleh kedua negara, terbukti pejabat penting dari kedua negara hadir. Dari Malaysia hadir Ghafar Baba (menlu), Tengku Najib (menpora) bahkan perdana menteri Malaysia saat itu, Mahathir Mohammad sendiri berkenan hadir dan memberikan ceramah. Dari Indonesia yang hadir adalah Akbar Tanjung (menpora), Ali Alatas (menlu) dan LB Moerdani (menhankam/pangab).

Penulis yang saat itu sebagai Presiden Indonesian Student Association for International Studies (ISAFIS) hadir sebagai steering committee dalam dialog tersebut. Isi pertemuan itu ternyata masih sangat relevan dengan keadaan sekarang. Kata ‘rumpun Melayu’ menjadi kata yang paling sering disebut dalam dialog tersebut. Ironisnya, dari awal hingga akhir dialog selama tiga hari itu, praktis merupakan proses pendekatan pandangan berbeda kedua pihak mengenai isu rumpun Melayu ini.

Tampak jelas para pembicara dari Malaysia menjadikan isu rumpun Melayu sebagai obsesi. Di lain pihak, Indonesia bicara dalam bingkai persatuan Pancasila, yang justru ‘mengharamkan’ masalah SARA. Penyatuan persepsi kedua pihak mengenai pendekatan rumpun, sangat mewarnai dialog tiga hari tersebut. Meski topik yang diprogram cukup beragam, tetapi akhirnya kembali isu rumpun Melayu mengemuka di setiap topik. Hal ini ternyata berlanjut pada dialog yang kedua di Cisarua, Jawa Barat, 17-21 Januari 1990. Masalah ras memang merupakan unsur dominan dalam pengelompokan politik di Malaysia.

Baik buruk hubungan RI-Malaysia merupakan faktor penentu pada keamanan regional Asia Tenggara. Sejarah konfrontasi di masa lalu dan rujuknya kedua negara serta pembentukan ASEAN dapat dilihat dari konteks pengaruh baik buruk hubungan kedua negara. Itu sebabnya, bicara mengenai peningkatan hubungan kedua negara harus selalu dikaitkan dalam konteks ASEAN. Dapat disimpulkan bahwa dalam masa reformasi ini Indonesia jelas telah kalah jauh dari Malaysia dalam mengejar ketertinggalan, belum lagi bila diuraikan keberhasilan Malaysia mengatasi masa krisis yang sama-sama dihadapi oleh kedua negara.

Kembali kepada berbagai masalah yang membuat hubungan kedua negara panas-dingin, bila kita mau jujur, kesalahan utama justru ada pada kita sendiri. Lepas dari kasus penganiayaan pelatih karate dan pelecehan terhadap isteri diplomat kita yang memang patut bila kita beri peringatan keras, kasus-kasus lainnya menurut hemat penulis lebih disebabkan kelambanan kita dalam berbenah diri. Citra negeri kita sudah sangat ‘jatuh’ di mata dunia, tidak terkecuali bagi pemerintah dan warga Malasyia.

Perusak citra

Ada beberapa hal menyebebabkan jatuhnya citra Indonesia. Pertama, banyaknya TKI yang mencari nafkah di luar negeri yang sebagian besar atau hampir semua tergolong pekerja kelas bawah. Mau tidak mau, suka atau tidak suka secara manusiawi hal ini menimbulkan hilangnya rasa hormat pada Indonesia sebagai satu kesatuan bangsa dan satu kesatuan citra. Jelas hal ini bukti ketidakmampuan kita menyediakan lapangan kerja dan nafkah yang layak bagi rakyat sendiri di dalam negeri. Padahal, sejak kecil kita dijejali dengan lagu-lagu yang menggambarkan betapa subur dan makmur serta kaya raya alam negeri ini.

Kedua, tekad Malaysia untuk meningkatkan pariwisatanya bukan hanya slogan kosong. Menurut Deputi Menko Perekonomian Bidang Koordinasi Indag, Edy Irawady, Indonesia harus mencari terobosan baru untuk mengejar ketertinggalan dari negara lain dalam perebutan besarnya kunjungan dan pengeluaran belanja turis mancanegara.

Dia mencontohkan, Malaysia dengan promosi Truly Asia-nya yang sudah siap dengan produk atraksi dan destinasinya mampu menjaring 10,6 juta turis dengan pertumbuhan 24,4 persen per tahun. Negeri jiran lain, Thailand mampu menarik kunjungan 10,1 juta turis dengan pertumbuhan rata-rata 8,3 persen, Singapura 6,1 juta (4,9 persen). Indonesia dengan 4,4 juta turis serta pertumbuhan 1,6 persen, jauh tertinggal dari Vietnam yang mencapai angka pertumbuhan 15 persen per tahun (LNI Community, 28/9/07).

Dalam konteks promosi wisata yang sangat bersemangat inilah, Malaysia menjual segala produk budaya yang eksis di wilayahnya. Ternyata, dalam promosi tersebut menyangkut antara lain lagu Rasa Sayange dan Reog Ponorogo yang disebut Barongan yang dimainkan orang di salah satu negara bagian yang konon dihuni oleh imigran keturunan Ponorogo.

Penulis berkesimpulan, pariwisata Indonesia seharusnya lebih berbenah diri dalam mengejar ketertinggalan dan melakukan kampanye yang gencar seperti Malaysia dengan antara lain menjual sebanyak mungkin berbagai unsur seni budaya kita yang eksis dan eksotis seperti yang sudah dilakukan oleh Malaysia. Dalam konteks kerukunan ASEAN, tidak tepat bila pendekatan bilateral didasarkan pada isu rumpun Melayu. Pendekatan seharusnya berdasarkan geo strategik yang rasional dengan mempertimbangkan faktor perekat dan pemisahnya.

Seharusnya berbagai kasus ini justru dapat menjadi hikmah bila dapat dijadikan starting point bagi kedua bangsa, sebagaimana yang sudah dimulai dengan tawaran menteri pelancungan Malaysia untuk bertemu dengan menparsenbud RI dalam waktu dekat ini. Penulis membayangkan pertemuan keduanya dapat berlanjut pada tingkat P to P (people to people) atau kerja sama antarmasyarakat, seperti pengusaha, pemuda/mahasiswa, LSM, dan sebagainya.
Sumber : Republika Online December 2007

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: