h1

KASUS “ANJAS BUGIL” ANTARA GERAKAN AGAMIS DAN DUNIA SENI

Januari 28, 2008

Oleh : Faizal Motik

Antara Moral Agama dan Kreatifitas Seni

Untuk kesekian kalinya, setelah “adem” beberapa saat kembali masyarakat Indonesia disuguhi “perang” debat antara gerakan agamis yang kali ini “diwakili” oleh kelompok FPI (Front Pembela Islam) disatu pihak dengan Anjasmara, Izabel sebagai objek foto, Davy Linggar sebagai photographer, dan Agus Suwage sebagai perupa serta Jim Supangkat sebagai Kurator dan Panitia di pihak lainnya.

Syukurlah, menurut media, tidak seperti yang dikhawatirkan semula, FPI tidak memakai jalan kekerasan tetapi membawa masalah ini ke jalur hukum. Khusus bagi Anjas terlihat sikap FPI yang melunak karena konon Anjas mengaku bersalah dan “tobat”, meskipun FPI melalui pimpinannya Habib Riziq secara tegas menyatakan bahwa mereka tidakakan mengintervensi proses hukum yang telah dilakukan polisi saat ini. Untuk kesekian kalinya pula, penulis melihat ada ketidaksinambungan komunikasi antara yang menggugat dan yang di gugat, yang satu bersikeras berbicara dalam bahasa moral dan agama serta aturan hukum (yang konon sampai sekarang tidak jelas batasannya), sedangkan yang satu lagi berbicara dalam bahasa seni dengan filosofi kebebasan ekspresinya.

Dalam jangka panjang perdebatan semacam ini dapat merugikan citra gerakan agama, khususnya Islam di Indonesia. Tidak usah heran bila akan tercipta kesan, terutama bagi kalangan muda, agama menjadi penghalang bahkan perusak kreatifitas di bidang seni. Mungkin karena sejak remaja penulis aktif di Mesjid dan sempat memimpin serta mengembangkan remaja mesjid dengan berbagai kegiatan seninya di tahun 70-an, beberapa ustadz sempat datang dan berdiskusi ke rumah penulis soal kasus yang sedang hangat di atas.Salah satu pertimbangan yang penulis sampaikan pada mereka, penulis coba tuangkan dalam kolom ini yang mudah-mudahan ada manfaatnya – paling tidak sebagai bandingan :

Pameran Internasional, Sang Kurator & Representasi Seniman Indonesia

Perlu ditegaskan disini bahwa penulis tidak bermaksud “mengambil alih” tuntutan berdasarkan moral dan agama serta hukum yang telah dilakukan oleh FPI. Sepanjang penulis ketahui, dalam tuntunan dakwah Islam (yang terlalu panjang untuk diurai disini) ada suatu prinsip dasar, yaitu bila berdakwah dan atau memberi peringatan pada suatu kaum (baca : kelompok) sepatutnya-lah berbicara dalam bahasa yang di mengerti oleh kaum (kelompok) tersebut.

Dalam kasus “Anjas Bugil” di atas, dengan segala keterbatasan, penulis mencoba berbicara dalam bahasa seni dengan segala dalilnya sebagaimana yang disampaikan oleh Anjas, Jim Supangkat (kurator pameran di atas) dan kawan-kawan.

1. Bila kita perhatikan wawancara Anjas dalam berbagai media, terlihat sekali “ketakaburan” sekaligus “pemujaan”-nya atas kerja seni yang dilakukan oleh photographer serta seniman instalasi yang membuat. Menurut Anjas karya tersebut adalah seni murni (pure art) yang tidak sama dengan foto-foto Rp. 5.000,-an yang di jual di kaki lima dan pinggir jalan.

2. Sayangnya (atau mungkin untungnya) penulis tidak sempat melihat langsung foto-lukisan dalam pameran tersebut, karena konon terlanjur sudah diturunkan sendiri oleh panitia – entah karena kesadaran atau ketakutan pada demo FPI. Dari foto-foto yang terlihat diberbagai media penulis berkesimpulan :

a. Tidak ada satu pun kreatifitas atau inovasi dari foto-foto/lukisan-lukisan tersebut yang dapat dibanggakan untuk mewakili kreatifitas seniman Indonesia. Apalagi bila diingat pameran ini bersifat internasional. Menurut pengamatan penulis beberapa tahun belakangan ini kreatifitas seniman kita baik dibidang lukis maupun foto sudah sangat lumayan, paling tidak banyak terjadi dinamika bahkan terobosan baru yang terjadi (sekali lagi,terlalu panjang untuk diungkap dalam tulisan ini). Tidak berlebihan bila ada kesimpulan bahwa tampilan foto/lukisan tersebut justru MENGHINAKAN dan MERENDAHKAN kreatifitas para seniman Indonesia, kenapa?

b. Kombinasi foto dan lukisan yang penulis lihat, tidak lebih dari pengulangan/klise (untuk tidak memakai kata JIPLAKAN) dari tema “Adam dan Hawa” yang sudah digunakan oleh ratusan bahkan ribuan seniman baik yang terkenal maupun tidak jauh sebelum zaman renaissance di Eropa Bila kelebihan yang ditonjolkan dari foto/lukisan tersebut hanya sekedar teknologi “tempel menempel” (montase), apalagi karya tersebut mewakili karya seni seniman Indonesia dalam suatu pameran internasional. Sungguh suatu kenyataan yang MENYEDIHKAN.

Meminjam istilah yang dipakai oleh Anjas sendiri, montase lukisan dan foto yang Anjas puja sebagai karya seni murni, MAAF tidak lebih dari karya pinggir jalan dan kaki lima bila dilihat dari segi kreatifitas dan inovasi. Ditambah lagi, bila kita tinjau dari foto-foto itu sendiri. Bagi orang awam sekalipun, akan sangat mudah melihat kesan “kaku dan gaya studio”, khususnya Anjas, terutama bila dikaitkan dengan latar belakang yang maunya alami – istilah anak gaul sekarang : “Nggak’ nyambung gitu lho!”.

Sementara itu gaya Izabel terkesan seronok, khususnya pose dimana dia (mohon maaf karena demikian kenyataannya), membuka selangkangan selebar-lebarnya dengan mulut yang juga terbuka lebar (tidak jelas menyeringai atau tertawa). Seseorang yang tidak punya kepekaan moral agamis sekalipun, dijamin tidak akan sulit untuk menarik kesan betapa kasar (vulgar)-nya pose tersebut. Masalahnya, “Dimana letak seninya ?”. Sebagai pekerja seni yang sama-sama terjun dalam foto-foto bugil, sepatutnya pula Anjas memohon maaf kepada para seniman pinggir jalan/pedagang kaki lima yang memproduksi/menjual foto-foto bugil. Istilah anak sekarang “Sesama pekerja seni per-BUGIL-an jangan saling menghinalah yauw !”.

3. Lebih ironis lagi, Jim Supangkat sebagai kurator dalam pameran di atas, merupakan salah satu kurator yang dianggap kurator unggulan Indonesia karena sering dipakai oleh pihak asing atau swasta asing dalam berbagai event seni bergengsi. Konon Jim terkenal sangat “rewel” dan bercita rasa “tinggi”, apalagi kalau sudah menyangkut inovasi dan kreatifitas. Paling tidak kesan itulah yang muncul bila kita amati ulasan-ulasan seni yang dimuat di majalah TEMPO tempat Jim pernah (atau masih?) bekerja.

Mengingat TEMPO majalah yang prestigious di republik ini, wajar bila tulisan Jim konon sangat berpengaruh bagi komunitas seni kita. Meskipun dilain pihak beberapa seniman juga mengeluhkan pada penulis, khususnya ketika selama bertahun-tahun Jim Supangkat menjadi juri Philip Morris Award, mereka berpendapat bahwa keputusan juri Philip Morris Award sangat dipengaruhi oleh selera Jim yaitu cenderung “aneh/sensasional” dan “kontemporer”, sehingga cenderung pula mengesampingkan karya lukis bermutu tinggi yang tidak termasuk dalam dua kategori tersebut.

Sungguh disayangkan kurator sekaliber Jim Supangkat bisa “kecolongan” (atau men-“colong”kan diri?),bahkan “pasang badan” untuk kerja seni yang kadar kreatifitas dan inovasinya seperti “Anjas Bugil” di atas.

4. Jim Supangkat sebagai kurator menyatakan “Ketakutan berlebihan panitia pameran hingga mencopot Pinkswing Park (judul lukisan foto tsb – pen) patut disesalkan. Penutupan itu akan menyuburkan teror, sekali teror di ikuti, ia akan terus datang menggerus keberanian dan kreatifitas” (Majalah TEMPO edisi 26 Sept– 2 Okt 2005). Sepatutnya kita semua sudah mengerti bahwa kebebasan setiap orang dalam HAM tak terkecuali kreatifitas seniman atau kurator,juga dibatasi oleh kebebasan orang lain.

Sungguh tidak berlebihan atau “kuno” bila para orang tua yang mungkin sebagian besar penggemar Anjas (mengingat rating yang tinggi dari berbagai sinetron yang dia bintangi, termasuk yang bertema dakwah) juga punya hak untuk memprotes ekspresi para seniman yang Jim kuratori dan dipajang di tempat umum (ranah publik) yang boleh di tonton oleh para remaja dan anak-anak mereka. Sangat tidak adil bila ada gerakan seperti FPI & MTP yang mewakili perasaan tersebut dikatakan melakukan TEROR, karena bukankah tidak berlebihan pula bila dikatakan foto/lukisan tersebut justru sangat menteror jiwa bagi banyak orang. Dalam hal ini, tentu kita bebas memilih dan menilai “SIAPA MENTEROR SIAPA?”.

MUSEUM BANK INDONESIA?

Lepas dari segala “haru biru” di atas, sangat wajar bila muncul pertanyaan : Bagaimana mungkin museum yang di miliki oleh Bank Indonesia suatu institusi yang sangat terhormat dalam bidang keuangan di republik yang sedang “morat-marit di bidang keuangan” ini, dapat mengizinkan dan sama sekali tidak keberatan ada kerja seni seperti itu di pajang dimuseumnya dan terbuka pula buat umum. Tidak jelas apakah BI disini sebagai sponsor yang memberi bantuan uang (baca: uang rakyat) atau fasilitator penyedia tempat yang juga dibangun dan dipelihara dengan uang rakyat.

Penulis khawatir dalam masa reformasi seperti ini akan timbul pertanyaan, siapa PETINGGI BI yang mensponsori/memfasilitasi pameran FOTO/LUKISAN BUGIL tersebut? Wah, bisa-bisa tambah lagi deretan tersangka!!. BAYANGKAN !! SEORANG PETINGGI KEUANGAN NEGARA JADI TERSANGKA MASALAH “BUGIL” HE..HE…HE… 00000O00000

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: