h1

Emha Menggebrak Umat yang resah

Januari 28, 2008

Para Lulusan Luar Negeripun rela berjam-jam mendengarkan Wejangannya di rumah Faizal Motik

Budayawan Emha Ainun Nadjib menjadi fenomena. Ia bukan kiai, tapi umatnya terserak di mana-mana. KIAI mbeling Emha Ainun Nadjib, 43 tahun, mengisi Ramadhannya dengan safari panjang. Undangan datang bertubi-tubi. Hampir tak ada hari terlewat tanpa ceramah. Maka, Cak Nun, panggilan intim budayawan itu, harus menemui “umatnya” di Jakarta, Surabaya, Bandung, dan “jamaah” fanatiknya di kampung kelahirannya, di Desa Menturo, Kecamatan Sumombito, Jombang. Sepanjang Ramadhan lalu, Cak Nun cuma tiga-empat hari pulang ke rumahnya di Kampung Patangpuluhan, Yogyakarta.

Pertengahan Ramadhan, di Jakarta, Cak Nun sempat berbicara dipengajian Paramadina. Forum ini dipimpin Dr. Nurcholish Madjid, tokoh pembaharu Islam terkemuka. Ia juga tampil di podium Masjid Al Azhar, Kebayoran Baru, tempat berkumpulnya anak muda Islam yang bersemangat. Jangan heran bila Emha juga memberikan siraman rohani untuk kalangan pialang saham di Bursa Efek Jakarta.

Cak Nun memang punya banyak “umat” di Jakarta. Para mantan mahasiswa Indonesia di Prancis pun mengundang santri asal Jombang ini berceramah di sebuah rumah di daerah Menteng, Jakarta, di rumah kediaman pengusaha muda Faisal Motik. Ny. Dewi Motik Pramono, kakak Faisal, bahkan begitu antusias sampai ia langsung meluncur ke tempat pengajian dari Bandar Udara Soekarno-Hatta, Cengkareng. Padahal ia baru tiba dari Jerman. Sehari sebelumnya, Emha memenuhi undangan Ny. Yanti Bambang Permadi, putri mantan Wakil Presiden Sudharmono.

Emha Ainun Nadjib memang unik. Ia memiliki jamaah khusus yang fanatik, yang menganggapnya lebih sebagai mitra ketimbang guru mengaji. Kehadirannya diterima di semua kalangan, dari mbok-mbok di kampung, mahasiswa, aktivis lembaga swadaya masyarakat (LSM), warga papan atas di kota besar, hingga pejabat Pemerintah. Ceramahnya yang gayeng, menyentil, sarat humor, dan menghibur tak jarang melibatkan puluhan ribu umat. Tapi karena aktivitasnya banyak diliput pers dan ia sendiri rajin menulis, kontaknya dengan masyarakat luas tak kalah dahsyat dari da’i kondang, seperti Zainuddin MZ.

Cak Nun suka mengulas ajaran Islam yang langsung bersentuhan dengan praktek sosial-politik. Ia senantiasa berpihak pada orang yang kalah, tertindas. Ulasannya kritis, tajam, dan menggugat. Tapi siraman humornya membuat suaranya tak terkesan kasar dan menghujat. Toh Cak Nun berkali-kali terkena cekal. Gubernur Jawa Tengah, Ismail, melarang Emha berceramah di wilayahnya pada 1992. Drama Pak Kanjeng disetop pada hari kedua di Yogyakarta, di awal 1994, dan dilarang sama sekali mentas di Surabaya. Lantas Juni 1995, ia gagal berceramah di Universitas Muhammadiyah Metro, Lampung, karena polisi tak memberi izin. Tiga hari kemudian ia dicekal lagi di Denpasar.

Namun orang tak kapok mengundangnya. Emha terus muncul di mana-mana. Publik memang memerlukannya. Jujuk Juariyah, bekas primadona grup lawak Srimulat, selalu berusaha hadir setiap Emha tampil di Solo, tempat kediaman Jujuk sekarang. “Wejangannya menyegarkan pikiran. Memberikan semangat,” ujar Jujuk, yang kini pengusaha salon kecantikan. Nunung, mantan artis Srimulat, merasa tenteram mendapat siraman rohani Emha. Dan jangan lupa, bagi bekas pelawak wanita Srimulat itu, humor Emha pun dianggap sangat lucu. “Bener lho,” katanya kepada Kastoyo Ramelan dari Gatra.

Doktor Laode M. Kamalludin, ahli informatika di Jakarta, pun mengaku menyukai ceramah Emha. Maka ia menyimak betul selama dua jam “Kiai” Emha berbicara di rumah Faisal Motik. “Sentuhannya luar biasa,” ujarnya seusai acara pengajian. Laode menilai, Emha bisa mengaitkan pemikiran Barat dan Jawa dengan ajaran Islam, sehingga memberikan perspektif tersendiri. Mayor Jenderal A.M. Hendropriyono pun menyempatkan diri mengikuti ulasan Emha di rumah Faisal Motik. “Dia orang pinter, berilmu. Tahu banyak masalah,” ujar mantan Pangdam Jaya, yang kini menjabat Komandan Lembaga Pendidikan dan Latihan TNI Angkatan Darat di Bandung, kepada Khudori dari Gatra.

Cak Nun memang menyandang banyak predikat. Banyak orang menyebutnya intelektual, kiai, atau ustad. Sebagian lainnya menganggapnya sastrawan, penyair, esais, komentator, kolomnis, dramawan, dan budayawan. Suaranya yang lantang dan kedekatannya dengan tokoh LSM membuat Emha digelari pula sebagai “aktivis”, bahkan politikus. Belakangan ada predikat baru bagi Emha yang kini bermobil BMW merah itu: penakluk artis-artis.

Emha Ainun Nadjib sendiri merintis dunianya di Yogyakarta, 1969, setelah ia mbalelo dari Pesantren Modern Gontor, Jawa Timur. Ia menempuh pendidikan SMA di kota gudeg itu. Di Yogyakarta ia bergabung dengan remaja peminat sastra di Persada Studi Klub, yang diasuh penyair koran Pelopor, Umbu Landu Paranggi, tokoh unik yang digelari “Raja Penyair Malioboro” itu. Selepas SMA, Cak Nun sempat terdaftar sebagai mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Tapi Emha cuma betah kuliah satu semester.

Ia pulang ke Jombang. Hampir dua tahun ia menimba ilmu dari kakeknya yang dikenal sebagai ulama tarekat. Lalu ia kembali lagi ke Yogyakarta, tempat yang disebutnya sebagai “telaga inspirasi”. Minatnya terhadap Islam, kebudayaan Jawa, serta kesenian menggebu, dan ia mempelajarinya secara otodidak. Emha pun terlibat banyak aktivitas: musikalisasi puisi, teater, dan diskusi kesenian serta kebudayaan.

Perlahan Cak Nun membangun komunitasnya. Ia merangkul seniman muda Yogyakarta. Tulisannya pun mulai bertebaran di halaman surat kabar. Tak semua bermutu. Ia masih bergulat mencari jati diri. Rumah kontrakannya diwarnai suasana komunal, menjadi tempat mangkal seniman muda yang kebanyakan miskin. Honor tulisan dan ceramahnya ludes untuk memborong bakwan dan limpung (ubi goreng). Emha tergolong royal untuk penghasilannya yang tak seberapa. Namun berangsur-angsur ia disuyuti, dituakan, oleh seniman muda Yogyakarta yang ditinggalkan Umbu Landu Paranggi ke Bali, tahun 1975. Berangsur karismanya tumbuh.

Pada usia 25 tahun, Emha menyunting gadis asal Lampung, Neneng Suryaningsih. Pasangan ini membuahkan anak lelaki, Sabrang Mowo Damar Panuluh, yang kini berusia 17 tahun. Pasangan ini hidup pas-pasan. Tapi kerukunan mereka mulai goyah ketika Emha nekat “mengembara” lebih dari setahun ke Belanda, Belgia, dan Jerman, 1984-1985. Pulang dari rantau, situasi sudah begitu panas. Mereka memilih berpisah. “Ego kami saling berbenturan. Inilah keadaan yang saya anggap paling baik,” kataEmha. Neneng mudik ke Lampung, Sabrang diboyongnya. Baru belakangan Sabrang bergabung lagi dengan ayahnya di Yogyakarta.

Di kalangan mahasiswa, ia mendapat tempat. Boleh dikatakan, Emha menjadi arsitek Teater Shalahuddin yang selalu mewarnai suasana Ramadhan di Kampus Bulaksumur. Ia menulis, dan terus menulis. Sehari ia mampu menyelesaikan empat naskah. Karyanya pun muncul di media berskala nasional. Ia menjadi public figure, tokoh panutan anak muda.

Lalu ia masuk ICMI, tahun 1990. Tapi rupanya Cak Nun tak betah tinggal dalam satu wadah. Ia mundur dari ICMI. Alasannya: organisasi cendekiawan muslim ini tak mau berbuat banyak untuk mengatasi krisis penggusuran di daerah genangan Waduk Kedungombo, Jawa Tengah. Ia pun makin vokal menunjukkan keberpihakannya kepada kepentingan wong cilik, rakyat jelata.

Maka melalui grup keseniannya yang dinamai “Komunitas Pak Kanjeng”, Emha mengemas kritik sosialnya dalam estetika panggung. Ia beruntung punya mitra potensial, kakak-beradik Butet Kartaradjasa dan Djaduk Feryanto, putra koreografer kondang Bagong Kussudiardjo. Emha bisa mengeksploitasi kepenyairannya untuk menyusun syair religius yang kemudian ditembangkannya dengan iringan musik campuran dari perkakas elektronik dan gamelan. “Kyai Kanjeng”, nama gamelan kelompok ini, diundang ke sana kemari. Bersama Teater Shalahuddin, Emha berhasilpula mementaskan Lautan Jilbab yang memukau puluhan ribu penonton.Emha makin berkibar.

Namun, bagi dramawan kondang Putu Wijaya, pencapaian Emha dalam bidang sastra dan teater belum mencapai puncak. Puisi Emha di mata Putu tak sekuat karya Sutardji Calzoum Bachri, misalnya. Putu mengaku mengamati pementasan Pak Kanjeng dan Lautan Jilbab. Bagi Putu, yang menonjol dari Lautan Jilbab hanya muatan dakwah dan sentuhan keislamannya. Sedangkan Pak Kanjeng dianggapnya cuma sarat kritik sosial.

Putu Wijaya menolak pandangan bahwa naskah drama yang baik harus sarat kritik. “Kalau cuma mau membuat kritik sosial, tak perlu membuat drama,” katanya. Pementasan Emha dianggap lemah dalam segi teknis dramaturgi: mengatur plot adegan atau membuat dialog yang hidup. Maka jika Putu Wijaya diminta membuat daftar 10 nama dramawan dan penyair terbaik di negeri ini, ia tak memasukkan Emha Ainun Nadjib.

Cak Nun sendiri seperti tak peduli dengan penilaian orang. Ia beranggapan bahwa penilaian atas karyanya tak lepas dari unsur subjektif. Bahkan ia merasa dianaktirikan. Pementasan dramanya tak dilirik para kritikus. Namun ia merasa mampu mencapai nilai estetik, dalam puisi atau drama, seperti orang lain. “Kalau ada juri yang benar-benar netral tanpa pamrih, saya mau ikut dalam lomba,” katanya menantang.

Apa pun pencapaiannya, orang di sekitarnya mengakui bahwa Emha memang kreatif. Tak kurang dari Dr. Nurcholish Madjid (Cak Nur), yang dikenal sebagai pembaharu pemikiran Islam di Indonesia, menilai Emha amat kreatif menafsirkan ayat suci. Kendati ajaran Emha berbau tarekat, ia tak menganjurkan sikap antikebendaan. “Tapi juga tak menyembahnya, melainkan mentransformasikan sebagai amal saleh, dan erohanikannya,” kata Cak Nur.

Betapapun gencar Emha Ainun Nadjib mengulas Islam, ia belum bergelar kiai (kecuali dengan embel-embel mbeling di belakangnya). Orang lebih merasa sreg menyebutnya seniman atau budayawan. Dan bagi Doktor Faruk H.T., dosen Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada, dari sudut kesufian, spirit Emha begitu agung, hendak menyelamatkan kehidupan dunia, Memayu-Ha-yuning Bawono.

Tapi ternyata Emha Ainun Nadjib sendiri seorang duda kesepian. Di depan umum pun ia bisa bersuara keras memanjatkan doa: “Ya, Allah, saya hamba yang naif. Mudah-mudahan cepat dikaruniai istri.” Mungkin tokoh seperti inilah yang mendapat tempat di tengah umat yang sedang resah. (Putut Trihusodo dan Joko Syahban)/GIS.-
Sumber : Majalah Berita Mingguan GATRA, 2 Maret 1996 (No.16/II) Rubrik : Laporan Utama.-

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: