h1

Jalan Ketiga Perokokan Indonesia

Januari 30, 2008

Dalam menyikapi industri rokok di Indonesia, terdapat dua mazhab yang saling berseberangan dan saling siap melindas. Mazhab pertama, mereka yang mendukung industri rokok dengan alasan untuk cukai dan pajak negara, serta demi kelangsungan hidup petani. Mazhab kedua, mereka yang anti rokok karena rokok dinilai merugikan kesehatan dan mengancam kecerdasan bangsa.

Di belakang mazhab pertama, tentu adalah para pemilik industri rokok dan mereka yang diuntungkan oleh industri rokok. Sedang di belakang mazhab kedua, adalah para moralis dan aktivis yang memiliki cara pandang idealis dalam melihat persoalan. Lalu di mana posisi pemerintah dalam kontraversi perokokan ini? Untuk sementara, pemerintah mendukung industri rokok. Maklum, pemerintah memperoleh suntikan dana dari cukai dan pajak industri rokok sebesar Rp 50 triliun pada 2006. Ini tentu duit gede yang kongkrit yang bisa mengalir untuk APBN, tanpa pemerintah banting tulang.

Untuk menekan daya beli masyarakat dalam mengkonsumsi rokok, pemerintah memang telah menerapkan tarif cukai maksimal 30%. Lalu Menteri Keuangan via Peraturan Menteri Keuangan pada 2006, telah menetapkan kenaikan harga jual eceran (HJE) rokok sebesar tujuh persen mulai 1 Maret 2007, dan menetapkan tarif cukai spesifik mulai 1 Juli 2007. Namun kebijakan-kebijakan itu, menurut Tulus Abadi dari Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia dalam artikelnya di sebuah media, dinilai belum cukup untuk menekan perkembangan perokokan di Indonesia. Tarif cukai maksimal 30% dinilai masih terlalu rendah dibandingkan di luar negeri, seperti di Thailand yang mematok tarif cukai 75% dari harga rokok.

Apakah kebijakan pemerintah dalam soal perokokan berasal dari pandangan yang komprehensif tentang dampak-dampak sosial-ekonomi-budaya akibat rokok? Ah, jangan terlalu banyak berharap kepada pemerintahan Yudhoyono yang masih disibukkan oleh masalah-masalah besar seperti kemiskinan, pengangguran, pembangunan ekonomi, pemberantasan korupsi dan masalah-masalah mendesak lainnya. Masalah rokok? Tentulah itu bukan prioritas yag urgent. Alasannya gampang, masalah rokok dan dampak negatifnya dalam kalkulasi kasar dan permukaan: masih banyak manfaatnya daripada mudaratnya.

Kaum idealis dan moralis silakan menyingsingkan lengan baju dan meregangkan otot untuk selalu memperjuangkan gerakan anti rokok. Namun mereka mesti mengingat bahwa budaya rokok merupakan realitas hidup yang hanya bisa diminimalisasi, tapi tak bisa dimusnahkan. “Budaya” rokok seperti “budaya” korupsi yang sulit diberantas. Dan urgensi pemberantasan rokok dalam kebijakan pemerintah masih jauh di bawah pemberantasan korupsi. Lihat saja, pemerintah sudah membentuk Komisi Pemberantasan Korupsi yang memiliki wewenang luar biasa (superbody), tapi tak membentuk Komisi Pemberantasan Rokok.

Namun bukan berarti jalan untuk menciptakan ruang hidup yang bersih dari rokok menemui kuldesak atawa jalan buntu. Senyampang DPR belum mengesahkan Undang-undang Pengendalian Tembakau – yang kini ngendon di Badan Legislasi DPR dan belum menjadi prioritas untuk dibahas, pemerintah seharusnya membentuk Komisi khusus untuk memecahkan masalah perokokan ini secara komprehensif. Pembentukan komisi ini paling tidak untuk mencitrakan bahwa pemerintahan Yudhoyono pro kesehatan dan kecerdasan bangsa. Programnya bisa saja baru berupa pengkajian dampak rokok dan mencari solusinya, namun bisa saja langsung membuat langkah kecil-kecilan untuk ikut menekan dampak-dampak negatif rokok.

Penulis dalam hal ini mengajukan jalan ketiga dalam menyikapi perokokan. Pertama, karena perokokan diasumsikan hanya bisa diminimalisasi, maka langkah-langkah minimalisasi ruang gerak industri rokok harus dilakukan. Pembatasan itu antara lain bisa dengan cara menaikkan tarif cukai maksimal 75% seperti di Thailand, melarang iklan rokok secara ekstensif terutama di media televisi, radio dan cetak, membatasi jumlah omzet maksimal industri rokok. Kalangan industri rokok mesti diberi pengertian bahwa bisnis rokok bukanlah bisnis masa depan yang baik. Karena itu prinsip maksimalisasi profit dari industri rokok harus dikendalikan.

Kedua, untuk mengatasi dampak sosial-ekonomi dari merosotnya konsumsi rokok dan karena itu bisa berimbas pada hilangnya mata pencaharian petani tembakau dan cengkeh, perlu dicarikan secara kreatif peluang-peluang baru dari pertanian tembakau dan cengkeh. Jumlah produksi tembakau dan cengkeh tetap diusahakan selalu meningkat, tapi untuk kepentingan ekspor dan budidaya lain. Departemen Pertanian yang kini berencana melakukan program intensifikasi, rehabilitasi dan peremajaan tanaman cengkeh secara terukur adalah langkah yang perlu didukung.

Departemen ini mengupayakan total areal tanaman menghasilkan terjaga 220 ribu hingga 230 ribu hektare di 10 provinsi sentra industri cengkeh pabrik rokok kretek, dengan maksimum total area 250 hektare, termasuk di luar area provinsi pabrik rokok kretek. Program itu akan dilakukan secara bertahap dalam lima tahun mendatang.

Langkah itu dilakukan karena pemerintah pernah salah urus dalam mengelola percengkehan pada masa Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh di era Orde Baru. Akibatnya, areal cengkeh berkurang drastis. Produksi cengkeh turun sejak tahun 2000, sehingga diperkirakan tanpa upaya penyelamatan, tahun 2009 produksi cengkeh Indonesia hanya akan mampu menyediakan sekitar 50% dari kebutuhan pabrik rokok kretek yang rata-rata mencapai 92.133 ton (Sumber: Deptan).

Pemerintah juga perlu memikirkan budidaya cengkeh untuk kepentingan non rokok. Peluang investasi untuk mengembangkan industri hilir, pemanfaatan hasil samping dan diversifikasi hasil, juga masih sangat terbuka. Bukankah cengkeh dapat dimanfaatkan untuk produk alternatif lain seperti minyak cengkeh yang bisa menjadi bahan baku untuk pembuatan balsam, obat kumur, dan permen. Juga tembakau ternyata tak hanya bisa dipakai untuk pembuatan rokok yang bisa mengakibatkan kanker, namun bisa menghasilkan protein anti-kanker.

Demikian paling tidak kata peneliti dari Pusat Penelitian Bioteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), DR Arief Budi Witarto. Sejak beberapa tahun lalu LIPI mengembangkan metode produksi protein bernilai tinggi dengan menggunakan tanaman – termasuk tembakau – sebagai medianya. Mereka mencoba penanaman sembilan jenis varietas tembakau lokal yang cepat tumbuh dan berdaun lunak untuk memudahkan proses pengambilan protein berkhasiat obat. (Kompas, 9 Maret 2005).

Ketiga, senyampang menurunkan jumlah industri dan konsumen rokok, pemerintah boleh juga mengampanyekan cara sehat merokok. Lo? Ya, daripada tak bisa melarang masyarakat untuk tak merokok sama sekali, mengampanyekan merokok secara sehat adalah alternatif. Konon, berhenti merokok dalam rentang waktu tertentu, bisa memulihkan kondisi kesehatan perokok ke kondisi seperti kesehatan orang yang bukan perokok. Jadi merokok memang berbahaya untuk kesehatan, tapi bisa dikendalikan. *

h1

Musuh Duapuluh Tahun Mendatang

Januari 30, 2008

Dalam setiap kemasan rokok pasti tercantum kalimat: merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi dan gangguan kehamilan dan janin. Toh kalimat peringatan itu tak membuat sebagian besar perokok untuk berhenti merokok. Salah satu alasan sulitnya banyak orang menerima bahaya penggunaan tembakau terhadap kesehatan, karena penyakit akibat merokok tidak timbul seketika. Penyakit akibat konsumsi rokok seperti kanker paru baru akan terasa 20 sampai 25 tahun setelah seseorang mulai merokok. Bila seseorang tergolek di ranjang rumah sakit karena kanker paru-paru, barulah dia akan sadar bahwa rokok benar-benar sebagai musuhnya.

Walau sudah sering diungkap dalam banyak tulisan, kandungan beracun rokok memang harus selalu dibeberkan. Seperti diketahui asap tembakau mengandung 4000 bahan kimia, tar, dan nikotin, termasuk 43 di antaranya yang diketahui menyebabkan kanker (karsinogen) pada manusia. Nikotin merupakan racun alkaloid yang hanya ada di dalam tembakau, bersifat sangat adiktif (menyebabkan ketagihan) dan mempengaruhi otak dan susunan saraf pusat.

Dalam jangka panjang, nikotin akan menekan kemampuan otak untuk mengalami kenikmatan, sehingga perokok senantiasa membutuhkan kadar nikotin yang lebih tinggi untuk mencapai tingkat kepuasan dari ketagihannya. Sifat nikotin yang sangat adiktif ini dibuktikan oleh adanya jurang antara jumlah perokok yang ingin berhenti merokok dan mereka yang berhasi. Survei pada anak-anak sekolah usia 13-15 tahun di Jakarta menunjukkan bahwa 20,4% adalah perokok tetap,dan 80% di antaranya ingin berhenti merokok tetapi tidak berhasil.

Konsumsi rokok, termasuk perokok pasif, mengakibatkan berbagai macam penyakit, antara lain paru-paru, jantung, kanker, gangguan kehamilan dan lain-lain. Pada paru-paru, zat-zat berbahaya dari asap rokok bisa menimbulkan sejumlah penyakit serius seperti penyakit paru obstruktif kronis, kanker paru dan penurunan faal paru. Pada jantung, seorang perokok beresiko tiga kali lebih besar terkena serangan jantung dibandingkan mereka yang bukan perokok.

Para perokok juga beresiko terkena kanker mulut lima kali lebih besar, karena asap rokok dihisap melalui mulut. Kemungkinan terkena anker tenggorokan bagi perokok juga sembilan kali lebih besar daripada mereka yang tak merokok. Perokok juga beresiko terserang beberapa jenis kanker lain seperti kanker kandung kemih, kanker bibir, lidah, pankreas, esofagus, dan kanker leher rahim.

Perokok perempuan berusia 35 tahun ke atas beresiko meninggal akibat kanker paru 12 kali lebih besar daripada perempuan yang tak merokok. Selain itu rokok juga bisa mengakibatkan ganggung rteproduski pada pria maupun wanita. Gangguan pada pria dapat berupa impotensi, kemandulan, dan gangguan sperma. Pada wanita gangguan itu berupa nyeri haid, menopause lebih dini, dan kemandulan. Di masa kehamilan, rokok meningkatkan resiko keguguran, kelahiran prematur, kematian bayi lahir, turunnya berat badan janin, gangguan tumbuh kembang, gangguan oksigenisasi, dan gangguan enzim pernafasan pada janin (Republika, 7 Januari 2007). Nikotin dan zat kimia lain dalam tembakau mengalir juga dalam air susu ibu (ASI). Anak yang menjadi perokok pasif sekaligus mendapat ASI yang tercemar zat kimia dalam tembakau memiliki kadar kotinin (hasil tambahan nikotin) yang tinggi dalam urin mereka.

Bahaya akibat konsumsi rokok itu tak terbatas pada rokok konvensional. Cerutu, pipa, shisha, dan rokok lintingan memiliki konsekuensi yang sama dengan rokok biasa. Juga rokok dengan kadar tar rendah atau kadar nikotin rendah tak mengurangi bahaya merokok. Tak mengherankan bila Organisasi Kesehatan Dunia pada 2003 melarang pernyataan yang menyesatkan tentang adanya rokok jenis light, mild maupun rendah tar.

Musuh berupa asap rokok memang tak mudah dipegang. *

h1

Absurditas Kaum Miskin

Januari 30, 2008

Kaum miskin adalah kelompok masyarakat yang paling mudah terkesiap oleh kibasan tongkat Dewi Peri (baca: rokok). Lihat saja hasil Survei Ekonomi Nasional Badan Pusat Statistik (BPS). Data menunjukkan bahwa pengeluaran keluarga miskin untuk rokok lebih besar daripada untuk biaya kesehatan dan pendidikan. Tahun 1999, keluarga miskin menghabiskan 5,3 persen pengeluaran untuk rokok, sementara untuk kesehatan dan pendidikan masing-masing hanya 1,7 dan 2,9 persen.

Tahun 2002, belanja rokok untuk keluarga miskin naik menjadi 6,8 persen, sementara untuk kesehatan dan pendidikan hanya 2,1 dan 2,5 persen. Tahun 2003, belanja rokok mencapai 7,6 persen, sementara untuk kesehatan dan pendidikan hanya 1,9 dan 2,6 persen. Tingkat konsumsi rokok keluarga miskin dari tahun ke tahun juga terus meningkat, sementara tingkat konsumsi kebutuhan pokok cenderung menurun atau naik sedikit saja. Tak mengherankan mengapa banyak ditemukan anak yang menderita busung lapar di tengah keluarga miskin, karena alokasi makanan pokok – termasuk susu — dialihkan untuk membeli rokok.

Data lain, alokasi belanja rokok kelompok masyarakat miskin juga lebih besar dari warga kaya. Tahun 2004, orang miskin mengalokasikan 10,9 persen anggarannya untuk rokok, sementara orang kaya hanya 9,7 persen. Diperkirakan pada 2007, jumlah keluarga miskin di Indonesia sebesar 19 juta jiwa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 2/3 laki-laki keluarga miskin merokok, sehingga diperkirakan 12 juta kepala keluarga miskin adalah perokok. Fakta lain, ternyata jumlah belanja rokok kelompok masyarakat miskin (Rp 23 triliun/tahun) lebih gede dari anggaran APBN untuk DEPKES (hanya Rp 17 triliun).

Absurditas perilaku masyarakat miskin, yang lebih mementingkan konsumsi rokok daripada kebutuhan pokok, itu masih bisa dimengerti. Maklumlah, masyarakat miskin secara umum berpendidikan rendah. La yang berpendidikan tinggi saja juga sulit melepaskan diri dari rokok – bagi mereka yang sudah ketagihan. Tampaknya kebiasaan merokok menjangkiti manusia secara lintas batas usia, latar belakang pendidikan, strata ekonomi dan lintas etnis, apalagi agama. Akal sehat dan moralitas cenderung tak berlaku dalam soal merokok.

Penyair Taufiq Ismail dalam beberapa puisinya sangat tepat menggambarkan kebiasaan buruk di kalangan masyarakat dari semua kelas sosial. Simak sebagian bait berikut: “Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok, tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok, di sawah petani merokok, di pabrik pekerja merokok, di kantor pegawai merokok, di kabinet menteri merokok, di reses parlemen anggota DPR merokok, di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok, hansip-bintara-perwira nongkrong merokok,…”

Bahkan dalam bait lain, Taufiq Ismail berani menyindir kalangan kiai yang umumnya menjadi teladan moral bagi masyarakat, yang tak juga lepas dari dosa merokok. Baca saja: “Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita. Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh, duduk sejumlah ulama terhormat merujuk kitab kuning dan mempersiapkan sejumlah fatwa. Mereka ulama ahli hisap. Haasaba, yuhaasibu, hisaaban. Bukan ahli hisab ilmu falak, tapi ahli hisap rokok. Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka terselip berhala-berhala kecil, sembilan centi panjangnya, putih warnanya, ke mana-mana dibawa dengan setia, satu kantong dengan kalung tasbih 99 butirnya…”

Di mata Taufiq Ismail, rokok telah menjadi tuhan baru bagi para perokok, termasuk kalangan kiai yang sehari-hari membawa 99 biji tasbeh untuk mengingat Tuhan. Jadi tak berlebihan jika kebanyakan kaum miskin pun mudah terkesiap oleh kibasan tongkat Dewi Peri, istilah lain untuk rokok yang dipakai oleh penulis buku ini. Wusss, kruiinggg… *

h1

Faizal Motik Ubah Pandangan Sinis Tentang Islam di tahun 70-an

Januari 28, 2008

Dirikan RISKA dan adakan Lomba Sepeda & Sepatu Roda

Jauh sebelum nama RISKA dikenal oleh kalangan remaja sekarang, aktivitasnya dimulai dari sekelompok remaja yang apabila bulan puasa tiba mereka selalu aktif mengikuti kegiatan sholat tarawih di BAPPENAS dan Wisma Yani. Melihat keadaan demikian, orang tua mereka berembuk untuk memberikan arah dan wadah terhadap para remaja mereka untuk mendekati dan mendalami ajaran Islam.

Sebagai tindak lanjutnya diadakanlah ceramah agama yang lazim disebut “Pengajian” dari rumah ke rumah, dikontrol dan dikoordinir orang tua mereka serta sifatnya masih kekeluargaan. Lama kelamaan para remaja berkeinginan mengkoordinir kegiatan ini di bawah pengawasan orang tua mereka.

Setelah kelompok pengajian ini terorganisir dengan baik, dibentuklah kepengurusan untuk mengkoordinir dengan susunan :
Ketua : Eddy Lukman Nataatmadja
Sekretaris : Dudy Machmoed

Pada bulan Desember 1968, diselenggarakanlah pengajian untuk pertama kalinya. Karena pengajian tersebut diselenggarakan di rumah Ibu Haji Machmoed di Jl. Subang 12, maka nama pengajian waktu itu adalah “Pengajian Putera-puteri Jalan Subang”. Periode kepengurusan Drs. Eddy Lukman Nataatmadja ini berlangsung dari tahun 1968 sampai dengan 1971. Periode berikutnya adalah dari tahun 1971 – 1974, di mana pada masa ini kegiatan pengajian di atas sudah mulai berkembang beserta struktur keorganisasian yang semakin tahun , semakin membaik. Pada tahun pertama strukturnya sangat sederhana sekali, yang terdiri dari:

Ketua : Nizwar Zulkarnaen
Sekretaris : Imma Basarah
Bendahara : One Odang

Selama empat tahun, organisasi mengalami beberapa perubahan antara lain perubahan nama menjadi “Pengajian Muda-mudi Sunda Kelapa” ditambah dengan kegiatan-kegiatan bimbingan tes masuk perguruan tinggi, khitanan masal dan bazaar. Bertepatan dengan tanggal 2 Pebruari 1974, sehubungan pembubaran panitia khitanan masal di rumah Laksmi Rakun Jl. Garut 13, Menteng, berakhirlah kepengurusan periode 1971 – 1974. Selanjutnya, mereka digantikan oleh pengurus periode 1974 – 1976, dengan susunan :

Ketua Umum : Muslih Muhsin
Sekretaris Umum : Asransyah Rasyid
Bendahara : Laksmi Rakun

Mulai periode kepengurusan ini kegiatan pengajian mengalami perkembangan pesat. Selain pengurus inti di atas, masih terdapat beberapa sie, diantaranya sie keputrian, olahraga, kesenian dan kerohanian. Selama periode ini, Pengajian Muda-mudi Sunda Kelapa banyak melakukan aktivitas yang sedikit banyak mengubah cara pandang banyak orang yang sinis terhadap Islam (seperti menganggap bahwa Islam itu identik dengan kampungan). Salah satu acara fenomenal yang diadakan adalah lomba sepatu roda dan rally sepeda yang kepanitiaannya diketuai oleh Faizal Motik. Acara ini sendiri mendapatkan respon yang sangat positif, terbukti dengan banyaknya peserta dari kalangan remaja, walaupun acara ini diadakan oleh sebuah pengajian.

Nama RISKA sendiri lahir bertepatan dengan kunjungan sosial kepada Anak-anak Negara Tangerang tanggal 28 Mei 1974. Adalah Asransyah Rasyid, waktu itu dipercaya menulis pengumuman, mencetuskan nama “Rombongan RISKA” untuk ditempelkan pada setiap kendaraan para peserta kunjungan. Ide ini awalnya berasal dari Faizal Motik, yang menurutnya Pengajian Muda-mudi sebaiknya diganti dengan “PERISKA” sebagai kependekan dari Persaudaraan Remaja Islam Sunda Kelapa. Oleh Asransyah Rasyid nama tersebut dirasa terlalu panjang dan dibuanglah awalan PE sehingga menjadi RISKA saja. Pada tanggal 16 September 1976 dalam rapat anggota pleno dipilih pengurus baru periode 1976-1978 dan struktur organisasinya lebih lengkap lagi mengingat kegiatannya bertambah banyak.
Sumber : riskaonline.org

h1

“Ayang-ayang Gung”, Nasihat Buat Pemimpin

Januari 28, 2008

Oleh Faizal Motik

”Ayang -ayang gung
Gung goongna rame
Menak Ki Mastanu
Nu jadi Wadana
Naha maneh kitu
Tukang olo-olo
Loba anu giruk
Ruket jeung Kumpeni
Niat jadi pangkat
Katon kagorengan
Ngantos Kanjeng Dalem
Lempa lempi lempong
Jalan ka Batawi ngemplong
Jalan ka Batawi ngemplong”

RASANYA tidak ada orang Sunda yang tidak kenal lagu ”Ayang-ayang Gung”. Namun, berdasarkan pengalaman penulis, hampir tidak ada yang dapat menerangkan apa maksud lagu tersebut. Bila ditanya spontan, ada satu-dua yang menjawab, “Wah, itu lagu zaman perjuangan melawan Belanda!” Ketika ditanya lebih lanjut, “Maksudnya apa?” ”Kurang jelas juga sih!”.

Jawaban ini penulis terima bukan dari sembarang orang, melainkan dari seorang artis Sunda terkenal. Jawaban senada juga datang dari seorang tokoh intelektual Sunda, pejabat tinggi di sebuah departemen. Mereka bukan kurang peduli terhadap seni Sunda. Sebaliknya, keduanya aktif, bahkan memimpin lembaga pengembangan wacana seni dan budaya Sunda. Penulis menduga, mungkin karena lagu ini begitu “pasarannya” sehingga dianggap tak perlu lagi mengurai maknanya.

Dalam menyambut Hari Proklamasi RI , di berbagai media massa sangat jarang ada ulasan mengenai peran seni rakyat dalam pembentukan wacana rakyat pada perjuangan kemerdekaan.
**

SEPENGETAHUAN penulis, lagu ”Ayang-ayang Gung” terdengar biasa-biasa saja. Akan tetapi, bila diingat sifat pemerintah kompeni yang represif, (penulis) lagu tersebut bukan saja sangat berani, melainkan juga sangat cerdik dalam menyiasati sikap represif tersebut.

Dengan irama lagu dan susunan kata yang mudah dinyanyikan serta diingat, efektivitas lagu itu menjadi wahana protes dan pendidikan kesadaran politik rakyat. Sungguh tidak dapat diragukan.
Bentuk sastra ”Ayang-ayang Gung” pun istimewa. Berbeda dengan bentuk-bentuk puisi yang dikenal di Indonesia, seperti pantun, gurindam, syair, dan sebagainya.

Kalau diperhatikan, suku kata terakhir pada kalimat lagu itu menjadi suku kata awal di kalimat berikutnya. Sungguh tingkat kesulitan yang sophisticated. Setahu penulis, bentuk ini tidak dikenal dalam pelajaran sastra Indonesia, bahkan di dunia (?). Tidak berlebihan bila dikatakan bahwa pencipta ”Ayang-ayang Gung” merupakan local genius.

Bila kita renungkan, lagu itu merupakan protes sarkastis terhadap tingkah laku seorang petualang politik, Ki Mastanu, yang menghalalkan segala cara demi ambisinya. Terlepas apakah tokoh itu benar-benar ada atau fiktif.

Mengingat popularitas dan keabadian lagu tersebut pada masyarakat Sunda, rasanya tidak berlebihan bila penulis mengusulkan lapangan di depan Gedung Sate, sebaiknya diganti menjadi Alun-alun ”Ayang-ayang Gung”.

Mengapa? Gedung Sate adalah monumen penjajahan kolonial Belanda. Bila monumen fisik penjajahan kita pelihara sebagai monumen sejarah dan kita manfaatkan, alangkah baiknya lapangan yang berhadapan dengan gedung tersebut kita wujudkan pula monumen peringatan semangat melawan penjajahan (ketidakadilan).

Caranya sungguh sederhana, hidupkan kembali khazanah budaya yang sudah sangat populer di kalangan masyarakat, yang substansi semangatnya patut dipelihara dalam batin rakyat. Sungguh suatu simbolik yang sempurna.

Terlebih lagi, bila diingat fungsi strategis gazebo sebagai tempat berkumpul rakyat. Sangat tepat kiranya bila diberi nama yang mengingatkan insan Jabar, khususnya pemimpin politik dan birokrat, untuk tidak menghalalkan segala cara dalam mencapai ambisinya serta menjalankan wewenang kekuasaan mereka.

Wallaahu a’lamu bi-sh shawaab.***
Penulis, Ketua Umum Yayasan Pesantren Swarna Bhumy).

Dikutip dari : http://www.pikiran-rakyat.co.id 168\2006

h1

Peresmian YDM

Januari 28, 2008

FaizalmotikPengurus Yayasan Dunia MerdekaPenandatanganan PrasastiFaizal dan pagar AyuFoto BersamaDr.Qodri AzizySambutan Gus Dursambutan Faizal MotikCanda Gus Dur dan Aa gymRatih sang dan Miing BagitoBersama Aa gym dan Gusdur

h1

Gonjang-Ganjing Resesi Ekonomi AS Bagi Indonesia

Januari 28, 2008

data belum dimasukkan

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.