h1

“Ayang-ayang Gung”, Nasihat Buat Pemimpin

Januari 28, 2008

Oleh Faizal Motik

”Ayang -ayang gung
Gung goongna rame
Menak Ki Mastanu
Nu jadi Wadana
Naha maneh kitu
Tukang olo-olo
Loba anu giruk
Ruket jeung Kumpeni
Niat jadi pangkat
Katon kagorengan
Ngantos Kanjeng Dalem
Lempa lempi lempong
Jalan ka Batawi ngemplong
Jalan ka Batawi ngemplong”

RASANYA tidak ada orang Sunda yang tidak kenal lagu ”Ayang-ayang Gung”. Namun, berdasarkan pengalaman penulis, hampir tidak ada yang dapat menerangkan apa maksud lagu tersebut. Bila ditanya spontan, ada satu-dua yang menjawab, “Wah, itu lagu zaman perjuangan melawan Belanda!” Ketika ditanya lebih lanjut, “Maksudnya apa?” ”Kurang jelas juga sih!”.

Jawaban ini penulis terima bukan dari sembarang orang, melainkan dari seorang artis Sunda terkenal. Jawaban senada juga datang dari seorang tokoh intelektual Sunda, pejabat tinggi di sebuah departemen. Mereka bukan kurang peduli terhadap seni Sunda. Sebaliknya, keduanya aktif, bahkan memimpin lembaga pengembangan wacana seni dan budaya Sunda. Penulis menduga, mungkin karena lagu ini begitu “pasarannya” sehingga dianggap tak perlu lagi mengurai maknanya.

Dalam menyambut Hari Proklamasi RI , di berbagai media massa sangat jarang ada ulasan mengenai peran seni rakyat dalam pembentukan wacana rakyat pada perjuangan kemerdekaan.
**

SEPENGETAHUAN penulis, lagu ”Ayang-ayang Gung” terdengar biasa-biasa saja. Akan tetapi, bila diingat sifat pemerintah kompeni yang represif, (penulis) lagu tersebut bukan saja sangat berani, melainkan juga sangat cerdik dalam menyiasati sikap represif tersebut.

Dengan irama lagu dan susunan kata yang mudah dinyanyikan serta diingat, efektivitas lagu itu menjadi wahana protes dan pendidikan kesadaran politik rakyat. Sungguh tidak dapat diragukan.
Bentuk sastra ”Ayang-ayang Gung” pun istimewa. Berbeda dengan bentuk-bentuk puisi yang dikenal di Indonesia, seperti pantun, gurindam, syair, dan sebagainya.

Kalau diperhatikan, suku kata terakhir pada kalimat lagu itu menjadi suku kata awal di kalimat berikutnya. Sungguh tingkat kesulitan yang sophisticated. Setahu penulis, bentuk ini tidak dikenal dalam pelajaran sastra Indonesia, bahkan di dunia (?). Tidak berlebihan bila dikatakan bahwa pencipta ”Ayang-ayang Gung” merupakan local genius.

Bila kita renungkan, lagu itu merupakan protes sarkastis terhadap tingkah laku seorang petualang politik, Ki Mastanu, yang menghalalkan segala cara demi ambisinya. Terlepas apakah tokoh itu benar-benar ada atau fiktif.

Mengingat popularitas dan keabadian lagu tersebut pada masyarakat Sunda, rasanya tidak berlebihan bila penulis mengusulkan lapangan di depan Gedung Sate, sebaiknya diganti menjadi Alun-alun ”Ayang-ayang Gung”.

Mengapa? Gedung Sate adalah monumen penjajahan kolonial Belanda. Bila monumen fisik penjajahan kita pelihara sebagai monumen sejarah dan kita manfaatkan, alangkah baiknya lapangan yang berhadapan dengan gedung tersebut kita wujudkan pula monumen peringatan semangat melawan penjajahan (ketidakadilan).

Caranya sungguh sederhana, hidupkan kembali khazanah budaya yang sudah sangat populer di kalangan masyarakat, yang substansi semangatnya patut dipelihara dalam batin rakyat. Sungguh suatu simbolik yang sempurna.

Terlebih lagi, bila diingat fungsi strategis gazebo sebagai tempat berkumpul rakyat. Sangat tepat kiranya bila diberi nama yang mengingatkan insan Jabar, khususnya pemimpin politik dan birokrat, untuk tidak menghalalkan segala cara dalam mencapai ambisinya serta menjalankan wewenang kekuasaan mereka.

Wallaahu a’lamu bi-sh shawaab.***
Penulis, Ketua Umum Yayasan Pesantren Swarna Bhumy).

Dikutip dari : http://www.pikiran-rakyat.co.id 168\2006

Berikan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: